Mencari seorang Indonesia yang Berprestasi (part I)


Sebenarnya ini cerita lalu, catatan perjalanan saya yang tercerai berai. Tetapi ada dorongan yang kuat untuk berbagi kepada teman-teman dan pengunjung setia blog ini. Ini adalah catatan saya ketika bertugas untuk mengverifikasi data kandidat untuk Indonesia Berprestasi Award 2009 yang merupakan salah satu program XL. Mudah-mudahan banyak yang bisa didapat dari catatan perjalanan saya.

Kamis, 08 Oktober 2009

Verifikasi Kandidat Indonesia Berprestasi Award 2009 dimulai hari ini, Team 2 (Pandu -ini saya- & Fitri -ini partner saya-) akan memulai ‘investigasi’ pertama ke Cikarang. Disana kami akan bertemu dengan Dedy Astika, kandidat dari kategori IPTEK. Team 2 sudah bersiap sejak pukul 07.30 pagi di Kantor. Sambil menunggu keberangkatan kami mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk hari ini, karena selain Dedy Astika kami juga akan menemui Dynand Fariz, kandidat berprestasi dari kategori Seni dan Budaya.

Kami janji bertemu dengan Dedy pukul 11.00 di PT. LG Innotek Indonesia, Bekasi International Industrial Estate, Lippo Cikarang, Bekasi. Dedy berpesan agar datang lebih awal supaya waktu untuk interview jadi lebih lama. Kami berangkat pukul 09.00 dari kantor, dan sampai di Cikarang sekitar pukul 10.30. Kami cukup beruntung karena kami tidak mengalami hambatan di jalan, meskipun sempat beberapa kali menanyakan arah jalan.

Sesampainya di LG, kami langsung menghubungi Dedy dan menemuinya untuk menggali lebih dalam tentang karyanya. Setelah bertemu, kami kemudian mencari tempat yang nyaman berhubung  suasana daerah Cikarang yang sangat panas akibat industri di sekelilingnya. Selama perjalanan Dedy bercerita bahwa ia baru saja tiga bulan bekerja di PT LG Innotek sebagai Strategic Planning. “Kerjaannya cukup santai mas, jalan-jalan terus. Tadi saya sedang menggambar” kata Dedy.

Akhirnya kami sampai di tempat yang cukup nyaman, yaitu Taman Rekreasi Hom Pim Pa. Setelah mendapatkan tempat yang pas, Dedy kemudian banyak bercerita mngenai latar belakang dan penjelasan mengenai inovasi IPTEKnya.

Dedy bercerita mengenai tempat asalnya yaitu Desa Pesantren, Kec. Wanayasa, Kabupaten Banjar Negara. Ia menyebutkan bahwa daerahnya adalah daerah yang cukup jauh untuk ditempuh. “Saya memang orang desa mas, orangtua saya adalah seorang PNS dan Guru” ucap Dedy. “Tapi Alhamdulillah saya bisa kuliah di Jogja” lanjut Dedy.

Setelah menceritakan daerah asalnya Dedy bercerita tentang inovasi Kanopinya. Selama ia bercerita kami banyak mengajukan beberapa pertanyaan karena rasa penasaran kami yang cukup membuat Dedy menjelaskan panjang lebar. Ide penemuan Kanopi untuk atap motor sebenarnya sudah ada, bahkan di Jepang sudah tersedia motor yang mempunyai Kanopi langsung. Kemudian ketua jurusan di kampusnya, M. Ridwan, kembali mengangkat isu Kanopi tersebut, bahkan pada tahun 2007, mahasiswa di kampusnya pernah membuat kanopi tersebut. Tapi sangat disayangkan produk tersebut masih harus disempurnakan.

Kanopi di motor, bagus banget untuk di bogor

Tujuan pembuatan Kanopi ini adalah pada saat berkendara dengan sepeda motor kita terbebas dari guyuran air hujan dan sengatan matahari. Disamping itu kanopi ini harus dibuat dengan standar keamanan yang tinggi dan tidak membuat pengendara motor merasa berat atau kesulitan pada saat berkendara.

Dedy dan teman-temannya kemudian memulai kembali pembuatan Kanopi tersebut dengan penyempurnaan di beberapa faktor. Tim yang dibentuk ada 18 orang, bagian-bagian yang ditangani pun berbeda-beda, ada yang menangani argonomi, ada yang terowongan angin, pembuatan untuk delivery, mengurusi pengukuran digital.

“Kalau saya itu mengurus pembuatan kanopi menggunakan serat alam rami dengan campuran poliester yang dibentuk melalui molding (cetakan). Dan membuat cetakannya itulah yang sangat sulit” jelas Dedy.

Tantangan yang dihadapi Dedy  ada pada saat pembuatan cetakan, dikarenakan harus membuat cetakan yang baik dengan tingkat presisi yang tinggi. Disamping itu proses pembuatannya pun membutuhkan tingkat ketelitian dan kesabaran yang tinggi agar hasilnya maksimal.

kanopi yang dibuat dari serat rami

Untuk masalah perijinan, Dedy dan Timnya sempat berkunjung ke kantor polisi di Jogja untuk melakukan konfirmasi apakah membuat kanopi tersebut melanggar atau tidak. “Setelah ditunjukkan langsung ternyata kanopi tersebut tidak menyalahi aturan, karena tidak mengubah bentuk asli motor, hanya menambahkan” kata Dedy.

Ada kejadian yang cukup menebarkan bagi Dedy dan Timnya. Berawal ketika Dedy mendapatkan informasi mengenai National Innovation Contest 2008 di ITB, ia baru saja mendapatkannya H-1 lomba tersebut. Kemudian dengan gerak cepat, ia menyusun proposal dan mempersiapkan keperluan untuk lomba tersebut. Kemudian mereka berangkat ke Bandung dengan membawa hasil kanopi tersebut dengan menggunakan mobil gandeng. Sesampainya di tempat lomba, Ada beberapa bagian Kanopi yang patah.

“Waktu itu kami sudah pasrah saja, kalah pun tidak apa-apa. Mau bagaimana lagi, akibat perjalanan yang cukup jauh.” ucap Dedy.

Tetapi hasil dewan Juri berkata lain, Dedy masuk 20 besar, dan akhirnya mendapatkan juara 2. “Terus terang, kami kaget dan sangat senang sekali, tidak menyangka akan menang, soalnya kanopinya sendii ada yang patah akibat perjalanan dari Yogya ke Bandung” jelasnya.

Dedy menjelaskan bahwa ketika membuat kanopi perasaan down sedikit ada tetapi itu semua dapat mudah diatasi karena memang proses pembuatan kanopi ini sangat menyenangkan.  Tanggapan masyarakat di Jogjakarta sangatlah unik, ketika motor yang berkanopi ini digunakan masyarakat sekitar banyak yang tertarik.

“Ada yang tiba-tiba di lampu merah memegang dan mengelus kanopi sambil menanyakan apa ini, kemudian di kampus jadi pusat perhatian kemudian mendekat dan hendak mencoba, ada juga yang datang kemudian menanyakan beli dimana dan berapa harganya. Ketika dijelaskan kemudian langsung memesan dua buah. Jadi banyak sekali yang pesan pokoknya” ujar Dedy dengan begitu bersemangat.

Kanopi ini dijual dengan harga 2 juta rupiah untuk satu unit kanopi. Warnanya pun dapat disesuaikan dengan warna motornya. Tidak sampai disitu Kanopi ini dapat membantu masyarakat sekitar terutama para pengumpul serat rami, para teknisi yang mengerjakan, dan tentunya membangkitkan perekonomian Yogyakarta. Meskipun berada di Cikarang, Dedy tetap berkoordinasi dengan teman dan dosennya di Jogja untuk pengembangan kanopi ini. “Saat ini sedang ada pesanan bernilai kira-kira 200 juta untuk kanopi ini, mudah-mudahan saja lancer” jelas Dedy.

Kanopi Brothers

Karya lain Dedy
Disamping kanopi, Dedy juga pernah mendapatkan juara pertama  pada Lomba Inovasi Teknologi Mahasiswa (LITM) untuk kategori kerajinan. Lomba yang diikuti 167 peserta dari berbagai kampus itu diadakan  Dinas Pendidikan Provinsi DIY.

Pada lomba ini Dedy berinovasi dengan mengubah pemanfaatan lidi menjadi dinding partisi (penyekat) ruangan atau sketsel. Tidak hanya sekedar menempelkan batang-batang lidi pada papan kayu/sketsel, tetapi melalui proses penenunan, pengeleman, pengeringan, dan proses pencetakan menjadi layer.

Harapan Dedy
Dedy, yang mengidolakan Nabi Muhammad SAW, berharap agar inovasi kanopi ini berkembang dan dapat dipakai oleh industry otomotif terutama pemain-pemain besar. Karena sampai saat ini masih tahap produksi khusus pesanan saja, tidak dalam produksi massal. Disamping itu, Dedy juga bercita-cita untuk menjadi seorang wirausaha yang terus melakukan inovasi dalam bidang IPTEK.

“Saya ingin menjadi seorang entrepreneur, meskipun saat in saya sedang bekerja, tapi saya menggunakan kesempatan ini untuk belajar mengenai industry secara real.” Ujar Dedy penuh semangat.

Me, Dedy, and Fitri

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: