#Indonesia65: Akankah tipping point terjadi di titik ini?


Max Havelaar. Photo Credit: Google Image

Ketika kuliah dulu, kira-kira tingkat dua, saya sempat jadi anak “perpus” (perpustakaan) yang menganggap teman terbaik saya saat itu hanyalah sebuah buku. Sebelum masuk kelas, setelah kelas selesai, pada saat istirahat, bahkan akhir pekan saya ke perpustakaan. Akibatnya, banyak acara kampus dan acara kumpul mahasiswa terlewatkan. Hal yang membuat saya betah di tempat yang sepi dan jarang dikunjungi oleh mahasiswa Indonesia itu (yang sering mengunjungi dan berlama-lama di tempat itu ialah mahasiswa asing, didominasi oleh mahasiswa China dan Vietnam) adalah buku-buku antik, berdebu, langka yang saya sering dengar namun tidak pernah ditemui. Salah satunya adalah buku Max Havelaar karya Multatuli (Eduard Douwes Dekker).

Memang buku tersebut bisa dibilang orisinil, dari mulai kertas (yang sudah sedikit digigit oleh rayap) hingga bahasanya (yang masih menggunakan bahasa Belanda). Setelah beberapa lama “meneliti” buku yang sudah uzur itu saya teringat akan peran Multatuli terhadap kolonialisi Belanda. Max Havelaar, adalah suatu bentuk kritisasi terhadap pemerintah Belanda yang terutama VOC yang dijangkiti oleh korupsi dan kesewenang-wenangan. Bahkan Pramoedya Ananta Toer dalam tulisannya menyebutkan Max Havelaar adalah “The Book that killed colonialism” (New York Times, April 18, 1998).

Buku itu dinilai telah menyadarkan bangsa ini akan pentingnya sebuah nasionalisme. Multatuli menggambarkannya dalam salah satu bagian buku melalui kisah Saijah dan Adinda. Buku itu telah menjadi “Talk of the Town” hingga secara eksponensial menjadi “Talk of the Nation and the World”. Dengan lahirnya buku itu, tipping point akan nasionalisme terjadi, gerakan-gerakan liberal untuk pembebasan Indonesia bahkan terjadi di Belanda, dan mulai mengubah pola pikir generasi cendekia muda negara ini untuk bangkit hingga mencapai kemerdekaan 17 Agustus 1945.

A small leap, sure we can do

Poster “Boeng, ajo boeng!”, 1945 oleh Affandi by Desain Grafis Indonesia

Tepat hari ini 65 tahun sudah Indonesia merdeka, “merdeka dari penjajah” banyak orang bilang, “tapi belum merdeka lahir dan batin, belum merdeka seutuhnya”. Ya. Saya akui kita belum merdeka sepenuhnya, masih banyak yang lapar, masih banyak yang tidak dapat penghidupan dan pekerjaan yang layak, masih banyak yang sulit mendapatkan pelayanan kesehatan, masih banyak yang terisolir tidak mendapat akses informasi, masih banyak yang putus sekolah, dsb.

Lalu apakah di usia 65 ini kemerdekaan seutuhnya masih sulit diraih? Terus terang, saya sendiri tidak bisa berkata banyak. Tetapi rasa optimis saya perlahan bangkit ketika melihat timeline di twitter sejak kemarin. Banyak sekali orang Indonesia, generasi 2.0 ini yang kritis, bangga, dan cinta dengan Indonesia melalui tweet-nya di #merdeka#indonesia65 dan #independence (tentu saja jadi Trending Topic).

Momentum Dirgahayu Indonesia yang ke-65 ini harus diikuti dengan lompatan kecil menju perubahan yang lebih baik, tidak hanya dengan berkoar-koar dan seremoni saja. Melalui #indonesia65 kita semua terhubung (connected), sudah satu visi, tinggal memulai aksi. Sangat mungkin sekali #indonesia65 jadi “The hash-tag that rising up the Lion of Asia, Indonesia”

Yang pasti, saya secara individu dan kelompok, sudah bertekad memulainya dari hal yang kecil. Saat ini sedang dalam proses, berkolaborasi dengan teman-teman, memulai “a small leap to create a tipping point”. Semoga di usianya yang ke-65, Indonesia akan semakin lebih baik lagi.

Jadi, mari kita lakukan hal kecil sesuai bidang dan kemampuan kita untuk membuat Indonesia yang Lebih Baik. Sure We Can Do!!

Foto karya juru foto Belanda, Cas Oorthuys ini dibuat pada 1946, beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan RI oleh Soekarno dan Hatta. Orang-orang berjalan melintasi grafiti menandakan kelahiran bangsa Indonesia, sebuah identitas baru diantara bangsa-bangsa lain di dunia. (Cas Oorthuys : 1946 | Nederlands Fotomuseum, Rotterdam) by Desain Grafis Indonesia

Mencari seorang Indonesia yang Berprestasi (part III)


Jumat, Sabtu, Minggu

9 – 11 Oktober 2009

Tujuan kami selanjutnya adalah Garut. Banyak yang bilang Garut adalah Surganya Jawa Barat karena dikelilingi oleh gunung-gunung dan sumber daya alam yang berlimpah dengan keindahan alamnya. Jadi saatnya kami buktikan ^_^.

Kami berangkat petang dari Jakarta untuk menghindari macet. Kami sampai di Garut malam hari dan menginap di Hotel. Keesokan harinya kami bertemu dengan salah satu kandidat kategori Kewirausahaan, dia adalah Goris Mustaqim. Goris datang tepat waktu bersama temannya, lalu kami pun salin memperkenalkan diri. Terlihat jelas bahwa Goris orang yang dapat membuat orang yang baru dikenal menjadi cepat akrab.

Fitri, Goris and Me

Kami pun tidak ingin menghabiskan waktu sia-sia, dengan bersemangat kami langsung menjelaskan mengenai Indonesia Berprestasi Award ini. Lalu Goris mengajak kami untuk sarapan Soto yang sudah melegenda di Garut, Soto Mang Ahri di pasar Mandalagiri (awal dari wisata kuliner di Garut)

soto mang ahri cuma 10 ribu saja

kemudian Bubur Mang Sopyan di depan Masjid Agung Garut

bubur mang sopyan cuma 6 ribu saja

ada juga Baso Mang Entis, Singkong Goreng, dan hal-hal yang membuat tubuh menjadi *gendut*.

Continue reading “Mencari seorang Indonesia yang Berprestasi (part III)”

Mencari seorang Indonesia yang Berprestasi (part II)


Kamis, 08 Oktober 2009

Setelah menemui Dedy Astika kami langsung tancap gas ke daerah Kemang untuk bertemu dengan salah satu kandidat dari bidang Seni dan Budaya. Ia adalah bosnya Jember Fashion Carnaval, Dynand Fariz.  Kami menemuinya di tempat ia mengajar, Sekolah Mode ESMOD. Dikarenakan jadwal Dynand yang cukup ketat, kami bisa menemuinya pada pukul 3 sore sedangkan pada saat itu jarum jam baru menunjukkan pukul 13.00. Kami tiba setengah dua di sekolah ESMOD, kemudian kami memberikan konfirmasi bahwa sudah sampai.

Pada saat kami masuk ke ESMOD, kami langsung disambut oleh Dynand kemudian ia mempersilahkan kami untuk mewawancarai ibu Maria, selaku Marketing Manager ESMOD Jakarta. Ibu Maria memberikan banyak testimoni mengenai Dynand.

“Dia itu orangnya pekerja keras, teliti, dan sangat bertanggung jawab. Benar-benar professional.”jelas Maria bercerita mengenai karakter Dynand.

bersama ibu maria, marketing director ESMOD

Setelah mengobrol dengan Ibu Maria, kami lalu menunggu sebentar untuk bertemu kembali dengan Dynand. Dikarenakan jadwal mengajar Dynand yang tidak bisa ditinggalkan maka kami dipersilahkan untuk mewawancarainya di kelas sembari dia mengajar.

Pada saat itu Dynand sedang mengajar tingkat satu mata kuliah Pattern. Terlihat di kelas Dynand terlihat atraktif, menyenangkan, dan sangat membantu kepada mahasiswa/i-nya. Di sela-sela kesibukan dia mengajar, dia menjelaskan mengenai dirinya dan aktivitasnya kepada kami.

Dynand saat menjelaskan tentang Pattern kepada mahasiswinya

Dynand Fariz: Mengangkat Jember dengan Fashion

Lahir di sebuah desa terpencil di Kabupaten Jember, Fariz yang asli Desa Garahan, Kecamatan Silo, merasa bahwa kota Jember saat itu merupakan kota kecil yang tidak menarik dan tidak memiliki keistimewaan yang menjadikannya dikenal orang.

Kemudian Ia sering minder saat bertemu dengan orang yang berasal dari kota-kota besar. Keadaan seperti itu tidak berlangsung lama, Dynand mulai membangun kepercayaan dirinya. Setelah lulus dari IKIP Surabaya, ia langsung diterima menjadi dosen di kampusnya. Merasa kurang tertantang kemudian Dynand mencoba mengikuti Program Beasiswa yang disponsori oleh ESMOD dan diterima. Di ESMOD Dynand menjadi siswa yang beprestasi, bahkan karena prestasinya ia dikirim ke ESMOD Paris selama 3 bulan.

Sekembalinya Dynand dari Paris, Ia langsung mendirikan Rumah Mode yang ia beri nama “House of Dynand” yang berkiblat pada tren fashion dunia. Dynand, yang juga menjadi staf Pengajar ESMOD selepas lulus, berkeinginan kuat untuk membangun kota kelahirannya. Lalu ia terinspirasi dari pameran mode di Paris, dan pameran mode di kota-kota lain.

“Saya melihat dalam setiap fashion show sering terdaat kesamaan baik itu dari desainnya, maupun temanya. Mengapa itu tidak membuat yang berbeda!” ujarnya.

Dari situlah Dynand kemudian tergerak untuk membuat Fashion Show yang berbeda yang menjadi cikal bakal Jember Fashion Carnaval. Disamping itu, laki-laki kelahiran Jember, 23 Mei 1963 ini ingin masyarakat Jember ikut serta dalam Fashion Show ini. Ia juga ingin membuat suatu Fashion Show yang mempunya tema dan karakteristik yang berbeda dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di sekeliling kita dan tidak terpakai.

Dynand Fariz menjelaskan konsep JFC

Pada 2003, Jember pun tergetar saat JFC hadir pertama kali pada 1 Januari 2003, bersamaan dengan HUT Kota Jember.  Tidak semua berjalan lancar. Tantangan dan hambatan mulai terus berdatangan. Ada yang pro dan tentu saja ada pula yang kontra.

“Memang cukup sulit untuk Jember menerima ini, karena Jember terkenal akan kota religiusnya. Ketika banyak kelompok yang mengecam karena kata mereka ini tidak baik, membuka aurat, dan lain sebagainya, padahal mereka belum pernah melihat. Lalu saya undang mereka untuk melihat, dan ternyata tidak sama sekali seperti yang mereka bayangkan.” Ucap Dynand.

Jember Fashion Carnaval terus berlanjut setiap tahunnya, JFC-2, JFC-3, hingga JFC-8 tahun ini. Setiap tahun sangat berbeda. Dynand beserta Timnya terus berusaha mingkatkan standar JFC. Untuk itu Dynand membuka pelatihan gratis mengenai fashion kepada seluruh peserta JFC  yang terdiri dari seluruh kalangan, baik itu segi desain maupun tekhnik.

Keunikan Jember Fashion Carnaval

JFC benar-benar unik, bagaimana tidak, dari tema yang selalu update dengan trend dunia, peserta yang memang bukan ahli fashion hanya masyarakat biasa dari usia yang sangat muda sampai dengan dewasa, kostum yang terbuat dari bahan-bahan sisa maupun bekas, desain yang orisinal, penonton yang membludak, hingga atraksi lain yang membuat JFC lengkap dari fashion sampai seni lainnya.

Yang menarik adalah gejala sosial yang terjadi dalam masyarakat. Dynand menjelaskan bahwa hubungan yang sangat erat keluarga dengan masing-masing individu tercipta, tumbuhnya nilai-nilai kerjasama antar masyarakat.

“Ketika anak dari salah satu keluarga ikut serta, mulai dari Ibu, Bapak, Adik, Kakak, semua ikut membantu membuatkan kostum. Kemudian mereka berbondong-bondong menyemangati si anak, dengan mengajak sanak famili lainnya. Dari situ terlihat jelas bahwa semangat gotong royong, kerja sama, dan menghargai muncul.” Ujar Dynand.

Nilai-nilai edukasi juga terlihat jelas, bagaimana seorang yang sama sekali tidak mengerti akan fashion, desain, kemudian mereka belajar, mencari bahan, hingga membuat kostum yang benar-benar orisinal hasil karya mereka, dan tentu saja pada akhirnya mereka juga yang akan memakai sendiri hasil karyanya.

Jember Fashion Carnaval - Costume

Disamping itu, di dalam JFC tidak hanya ada Fashion Show saja, tetapi dilengkapi dengan pertunjukkan seni lainnya, antara lain Tari, Marching Band, dan banyak ditemukan bakat-bakat baru dari masing-masing peserta seperti musik dan tarik suara.

Media lokal dan internasional pun berdatangan untuk meliput, ratusan fotografer seakan tidak mau ketinggalan setiap momen pada setiap JFC. Tim JFC pun mendapatkan undangan dari berbagai event nasional dan internasional. Mulai Fashion Street Kuta Karnival Bali, Bali Fashion Week Bali, Exhibition bersama Nusantara Culture dan Foundation Indonesia pimpinan Marzuki Usman di Jakarta, 100th, World Scout Jamboree dalam Indonesian Day London dan Indonesian Reception Day di Mumbay, India.

Kostum JFC yang unik

Mimpi dan Harapan

Dulu Dynand hanya bisa membayangkan dan bermimpi bahwa kotanya yang dulu dia tidak banggakan, menjadi kota yang dikenal dan disanjung banyak orang. Kini mimpi itu terwujud.

“Tentunya ini berkat kerja keras dan keyakinan, kalau kita yakin bisa, yah lambat laun itu akan terwujud. Tapi kita jangan pernah puas, harus terus mengkoreksi diri, dan berkembang. “ kata peraih penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kategori Catwalk Terpanjang.

Dukungan untuk Dynand dan JFC terus mengalir, baik itu Pemda, Pemerintah Pusat, Masyarakat, Media dan JFC mulai menularkan kepada kota-kota lainnya. Salah satunya adalah Solo yang juga mengadakan fashion show Batik. Dynand berharap akakn hadirnya JFC bisa membantu kota Jember baik dari segi pariwisata, SDM, dan perekonomian. Dan tentunya mengangkat citra Jember dan Indonesia di mata dunia.

Fitri, Saya, dan Dynand

Mencari seorang Indonesia yang Berprestasi (part I)


Sebenarnya ini cerita lalu, catatan perjalanan saya yang tercerai berai. Tetapi ada dorongan yang kuat untuk berbagi kepada teman-teman dan pengunjung setia blog ini. Ini adalah catatan saya ketika bertugas untuk mengverifikasi data kandidat untuk Indonesia Berprestasi Award 2009 yang merupakan salah satu program XL. Mudah-mudahan banyak yang bisa didapat dari catatan perjalanan saya.

Kamis, 08 Oktober 2009

Verifikasi Kandidat Indonesia Berprestasi Award 2009 dimulai hari ini, Team 2 (Pandu -ini saya- & Fitri -ini partner saya-) akan memulai ‘investigasi’ pertama ke Cikarang. Disana kami akan bertemu dengan Dedy Astika, kandidat dari kategori IPTEK. Team 2 sudah bersiap sejak pukul 07.30 pagi di Kantor. Sambil menunggu keberangkatan kami mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk hari ini, karena selain Dedy Astika kami juga akan menemui Dynand Fariz, kandidat berprestasi dari kategori Seni dan Budaya.

Kami janji bertemu dengan Dedy pukul 11.00 di PT. LG Innotek Indonesia, Bekasi International Industrial Estate, Lippo Cikarang, Bekasi. Dedy berpesan agar datang lebih awal supaya waktu untuk interview jadi lebih lama. Kami berangkat pukul 09.00 dari kantor, dan sampai di Cikarang sekitar pukul 10.30. Kami cukup beruntung karena kami tidak mengalami hambatan di jalan, meskipun sempat beberapa kali menanyakan arah jalan.

Sesampainya di LG, kami langsung menghubungi Dedy dan menemuinya untuk menggali lebih dalam tentang karyanya. Setelah bertemu, kami kemudian mencari tempat yang nyaman berhubung  suasana daerah Cikarang yang sangat panas akibat industri di sekelilingnya. Selama perjalanan Dedy bercerita bahwa ia baru saja tiga bulan bekerja di PT LG Innotek sebagai Strategic Planning. “Kerjaannya cukup santai mas, jalan-jalan terus. Tadi saya sedang menggambar” kata Dedy.

Akhirnya kami sampai di tempat yang cukup nyaman, yaitu Taman Rekreasi Hom Pim Pa. Setelah mendapatkan tempat yang pas, Dedy kemudian banyak bercerita mngenai latar belakang dan penjelasan mengenai inovasi IPTEKnya.

Dedy bercerita mengenai tempat asalnya yaitu Desa Pesantren, Kec. Wanayasa, Kabupaten Banjar Negara. Ia menyebutkan bahwa daerahnya adalah daerah yang cukup jauh untuk ditempuh. “Saya memang orang desa mas, orangtua saya adalah seorang PNS dan Guru” ucap Dedy. “Tapi Alhamdulillah saya bisa kuliah di Jogja” lanjut Dedy.

Setelah menceritakan daerah asalnya Dedy bercerita tentang inovasi Kanopinya. Selama ia bercerita kami banyak mengajukan beberapa pertanyaan karena rasa penasaran kami yang cukup membuat Dedy menjelaskan panjang lebar. Ide penemuan Kanopi untuk atap motor sebenarnya sudah ada, bahkan di Jepang sudah tersedia motor yang mempunyai Kanopi langsung. Kemudian ketua jurusan di kampusnya, M. Ridwan, kembali mengangkat isu Kanopi tersebut, bahkan pada tahun 2007, mahasiswa di kampusnya pernah membuat kanopi tersebut. Tapi sangat disayangkan produk tersebut masih harus disempurnakan.

Kanopi di motor, bagus banget untuk di bogor

Tujuan pembuatan Kanopi ini adalah pada saat berkendara dengan sepeda motor kita terbebas dari guyuran air hujan dan sengatan matahari. Disamping itu kanopi ini harus dibuat dengan standar keamanan yang tinggi dan tidak membuat pengendara motor merasa berat atau kesulitan pada saat berkendara.

Dedy dan teman-temannya kemudian memulai kembali pembuatan Kanopi tersebut dengan penyempurnaan di beberapa faktor. Tim yang dibentuk ada 18 orang, bagian-bagian yang ditangani pun berbeda-beda, ada yang menangani argonomi, ada yang terowongan angin, pembuatan untuk delivery, mengurusi pengukuran digital.

“Kalau saya itu mengurus pembuatan kanopi menggunakan serat alam rami dengan campuran poliester yang dibentuk melalui molding (cetakan). Dan membuat cetakannya itulah yang sangat sulit” jelas Dedy.

Tantangan yang dihadapi Dedy  ada pada saat pembuatan cetakan, dikarenakan harus membuat cetakan yang baik dengan tingkat presisi yang tinggi. Disamping itu proses pembuatannya pun membutuhkan tingkat ketelitian dan kesabaran yang tinggi agar hasilnya maksimal.

kanopi yang dibuat dari serat rami

Untuk masalah perijinan, Dedy dan Timnya sempat berkunjung ke kantor polisi di Jogja untuk melakukan konfirmasi apakah membuat kanopi tersebut melanggar atau tidak. “Setelah ditunjukkan langsung ternyata kanopi tersebut tidak menyalahi aturan, karena tidak mengubah bentuk asli motor, hanya menambahkan” kata Dedy.

Ada kejadian yang cukup menebarkan bagi Dedy dan Timnya. Berawal ketika Dedy mendapatkan informasi mengenai National Innovation Contest 2008 di ITB, ia baru saja mendapatkannya H-1 lomba tersebut. Kemudian dengan gerak cepat, ia menyusun proposal dan mempersiapkan keperluan untuk lomba tersebut. Kemudian mereka berangkat ke Bandung dengan membawa hasil kanopi tersebut dengan menggunakan mobil gandeng. Sesampainya di tempat lomba, Ada beberapa bagian Kanopi yang patah.

“Waktu itu kami sudah pasrah saja, kalah pun tidak apa-apa. Mau bagaimana lagi, akibat perjalanan yang cukup jauh.” ucap Dedy.

Tetapi hasil dewan Juri berkata lain, Dedy masuk 20 besar, dan akhirnya mendapatkan juara 2. “Terus terang, kami kaget dan sangat senang sekali, tidak menyangka akan menang, soalnya kanopinya sendii ada yang patah akibat perjalanan dari Yogya ke Bandung” jelasnya.

Dedy menjelaskan bahwa ketika membuat kanopi perasaan down sedikit ada tetapi itu semua dapat mudah diatasi karena memang proses pembuatan kanopi ini sangat menyenangkan.  Tanggapan masyarakat di Jogjakarta sangatlah unik, ketika motor yang berkanopi ini digunakan masyarakat sekitar banyak yang tertarik.

“Ada yang tiba-tiba di lampu merah memegang dan mengelus kanopi sambil menanyakan apa ini, kemudian di kampus jadi pusat perhatian kemudian mendekat dan hendak mencoba, ada juga yang datang kemudian menanyakan beli dimana dan berapa harganya. Ketika dijelaskan kemudian langsung memesan dua buah. Jadi banyak sekali yang pesan pokoknya” ujar Dedy dengan begitu bersemangat.

Kanopi ini dijual dengan harga 2 juta rupiah untuk satu unit kanopi. Warnanya pun dapat disesuaikan dengan warna motornya. Tidak sampai disitu Kanopi ini dapat membantu masyarakat sekitar terutama para pengumpul serat rami, para teknisi yang mengerjakan, dan tentunya membangkitkan perekonomian Yogyakarta. Meskipun berada di Cikarang, Dedy tetap berkoordinasi dengan teman dan dosennya di Jogja untuk pengembangan kanopi ini. “Saat ini sedang ada pesanan bernilai kira-kira 200 juta untuk kanopi ini, mudah-mudahan saja lancer” jelas Dedy.

Kanopi Brothers

Karya lain Dedy
Disamping kanopi, Dedy juga pernah mendapatkan juara pertama  pada Lomba Inovasi Teknologi Mahasiswa (LITM) untuk kategori kerajinan. Lomba yang diikuti 167 peserta dari berbagai kampus itu diadakan  Dinas Pendidikan Provinsi DIY.

Pada lomba ini Dedy berinovasi dengan mengubah pemanfaatan lidi menjadi dinding partisi (penyekat) ruangan atau sketsel. Tidak hanya sekedar menempelkan batang-batang lidi pada papan kayu/sketsel, tetapi melalui proses penenunan, pengeleman, pengeringan, dan proses pencetakan menjadi layer.

Harapan Dedy
Dedy, yang mengidolakan Nabi Muhammad SAW, berharap agar inovasi kanopi ini berkembang dan dapat dipakai oleh industry otomotif terutama pemain-pemain besar. Karena sampai saat ini masih tahap produksi khusus pesanan saja, tidak dalam produksi massal. Disamping itu, Dedy juga bercita-cita untuk menjadi seorang wirausaha yang terus melakukan inovasi dalam bidang IPTEK.

“Saya ingin menjadi seorang entrepreneur, meskipun saat in saya sedang bekerja, tapi saya menggunakan kesempatan ini untuk belajar mengenai industry secara real.” Ujar Dedy penuh semangat.

Me, Dedy, and Fitri

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: