Tips Belanja Online yang Aman, Nyaman, dan Hemat. (Plus, Tips untuk Pemilik Toko Online)


Belanja online, bagi yang belum terbiasa melakukannya, akan terasa susah-susah gampang, dan mungkin muncul beberapa kekhawatiran.

Kekhawatiran yang biasanya muncul:

  • menjadi korban penipuan
  • informasi kartu kredit bocor (menjadi korban pishing)
  • produk yang dibeli tidak sesuai dengan apa yang ditampilkan di website
  • harga yang didapat malah lebih mahal dengan yang di toko / mall
  • pengiriman yang lama / tak kunjung sampai

Di awal-awal ketika mencoba belanja online, saya pun merasakan kehawatiran diatas, bahkan mengalami beberapa diantaranya. Tetapi, seiringnya dengan waktu *tsahh* , dan semakin sering saya melakukan belanja online, kekhawatiran itu sudah lama pergi jauh 🙂

Untuk Anda yang ingin belanja online, saya akan bagikan beberapa tips & trik belanja online yang aman, nyaman, dan hemat.
Continue reading “Tips Belanja Online yang Aman, Nyaman, dan Hemat. (Plus, Tips untuk Pemilik Toko Online)”

Ingin Lebih Maksimal Lagi Berjualan Online, 4 Ide Ini Bisa Diterapkan oleh Toko Online di Indonesia


Selain mobile nation, terkait dengan industri digital, negara kita mungkin cocok disebut sebagai ecommerce nation, atau online shop nation. Menurut IdEA, dalam 5 tahun ke depan pertumbuhan online shopper / pengguna internet yang melakukan belanja online bisa mencapai 75 juta. Berikut adalah cuplikan datanya:

Sekilas data eCommerce di Indonesia menurut IdEA
Sekilas data eCommerce di Indonesia menurut IdEA

Tentunya tren ecommerce / toko online ini akan terus berkembang dan meledak. Bayangkan, setiap ada media sosial baru, tiba – tiba tidak lama kemudian muncul lapak. Tiba-tiba profile page mendadak berubah menjadi tempat jualan. Sampai-sampai di postingan apapun selalu saja muncul komentar jualan. Sebagai konsumen, saya malah men-cap negatif untuk toko online yg menjalankan praktik seperti itu. You give ecommerce a bad name!

Spam Toko Online
Spam Toko Online yang lumayan merisihkan. Semakin risih ketika muncul di komentar idola kita 🙂

Dua tahun terakhir ini saya lumayan banyak melakukan aktivitas belanja online. Tidak seperti tiga – empat tahun lalu, dimana saya belanja online-nya masih menggunakan cara tradisional di forum/kaskus/mailing list. Apalagi metode pembayarannya masih menggunakan transfer bank manual kemudian buktinya dikirim, atau menggunakan metode COD (Cash on Delivery).

Sekarang, toko online sudah semakin baik: keamanan, kredibilitas, sistem pembayaran, proses pengiriman, harga yang lebih bersaing, dan tanggapan customer service yang cepat. Apalagi saat ini sudah ada asosiasi seperti IdEA (Indonesia Ecommerce Association) yang giat dan aktif berkontribusi.

Ada tujuh kategori ecommerce berdasarkan jenis produk yang dijual yang sudah saya rasakan pengalaman berbelanja, yaitu tiket pesawat & hotel, fashion, elektronik, gadget, buku & majalah, keperluan bayi & rumah tangga, sampai dengan groceries. Pengalaman yang saya rasakan berbeda-beda, baik pengalaman negatif sampai dengan yang sangat positif. Berdasarkan pengalaman tersebut saya punya 4 masukan/ide bagi pembaca blog ini yg akan atau sedang menjalankan toko online.

Continue reading “Ingin Lebih Maksimal Lagi Berjualan Online, 4 Ide Ini Bisa Diterapkan oleh Toko Online di Indonesia”

Framework ini bisa digunakan untuk mengkategorisasi online audience ketika sedang membuat strategi komunikasi digital


Ketika sedang membuat strategi digital untuk sebuah brand, saya mendapatkan sebuah gambaran/situasi/struktur pengguna internet terhadap informasi. Awalnya saya mengira framework ini hanya sebuah penggambaran dari user search intent (keinginan/niat pencarian pengguna) saja seperti berikut:

Klik image untuk melihat lebih jelas
Contoh pada brand susu soya. Klik gambar untuk ukuran yang lebih besar.

Ternyata setelah dieksplorasi lagi, framework ini tidak hanya saya dapati dalam situasi konsumen mencari informasi saja, tetapi juga bisa digeneralisasi untuk berbagai macam kebutuhan strategi komunikasi. Diantaranya untuk mengkategorisasi audience untuk basis strategi content marketing, membangun persepsi, isu dan gerakan sosial, sampai dengan krisis komunikasi. Sebagai contoh jika framework ini diterapkan untuk isu & gerakan sosial: Continue reading “Framework ini bisa digunakan untuk mengkategorisasi online audience ketika sedang membuat strategi komunikasi digital”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: