Belajar Caranya Hidup dan Tumbuh Bersama Anak dengan Charlotte Mason


“Kamu mau ngapain ke sini? Tujuannya apa?” Charlotte Mason (CM) bertanya kepada muridnya di hari pertama sekolah menengah CM di Inggris.

Hal yang sama terjadi di hari pertama kelas fondasi CM yang dimentori oleh Mba Ayu “Kenapa ikut kelas ini?” kata Mba Ayu bertanya kepada kami para peserta kelas.

Bagi saya kedua pertanyaan di atas adalah pertanyaan penting yang sangat mendasar, bahkan saya sendiri membutuhkan refleksi yang mendalam dan hampir setiap hari ditanyakan kepada diri saya sendiri semenjak kelas tersebut. Jadi kenapa?

“Saya ikut kelas fondasi CM agar bisa tumbuh bersama dengan anak saya dan anak saya bisa mendapatkan kebahagiaan dari dalam dirinya sendiri secara mandiri”, kira-kira itu jawaban saya pada saat itu. Ketika kembali direfleksikan, sepertinya akan banyak alasan-alasan lain yang berasal dari keinginan diri, tapi apakah itu memang alasan-alasan itu keinginan anak saya?

Sang Khalik mempercayakan kepada kami seorang anak laki-laki yang saat ini berusia 6,5 tahun pasti ada alasannya. Alasannya apa? Mungkin jawabannya tidak instan kami ketahui, tapi jawaban dari CM ke muridnya sangat filosofis untuk diselami: “Mungkin kamu kesini karena untuk belajar caranya hidup.”

Dari diskusi awal ini, kembali muncul pertanyaan dasar-dasar filosofi CM dengan memulai: “Manusia itu apa? Bagaimana masyarakat memandang manusia?” Di awal tahun pernikahan kami, saya dan istri mempunyai pandangan yang sama seperti di lingkungan saya bahwa manusia ketika dilahirkan seperti kertas kosong yang bisa diisi oleh ragam hal yang bisa membentuk kepribadian dan pemikiran. Namun semenjak 2 tahun terakhir pemikiran ini terpatahkan dari pengetahuan yang kami dapat dan di kelas Fondasi CM ini kembali diangkat bahwa anak itu tidak seperti kertas kosong, yang seperti robot bisa diberikan aturan dan perintah, lalu mereka akan tumbuh seperti apa yang diperintahkan. CM melihat manusia tidak sesederhana itu, dari lahir anak itu dibekali dengan keunikan dan bagaimana kita akan mendidik anak berasal dari cara kita memandang anak.

Bagaimana saya memandang anak?

Seringkali saya memandang anak, seperti ada keinginan untuk mengubah hal-hal yang tidak baik menjadi baik karena trauma dan pengalaman masa lalu. Cara pandang ini sangat bisa terjebak dalam romantisme anak, bahkan mungkin juga bisa terjebak dalam cara pandang yang otoriter. Dalam CM, cara kita memandang anak perlu diperiksa dan disadari, karena anak merupakan titipan Tuhan dan di dalamnya ada titipan masyarakat. Salah satu hal yang bisa membantu dalam menentukan cara pandang dalam pendidikan anak yaitu dengan memahami bahwa anak-anak terlahir sebagai pribadi utuh, tidak sepenuhnya baik dan buruk, ada possibility baik atau buruk. Anak yang nanti akan tumbuh remaja kemudian dewasa tentu akan punya dampak kepada masyarakat apakah dia akan menjadi seseorang yang bermanfaat atau malah menjadi seseorang yang egois sehingga tujuan titipan masyarakat itu tidak terpenuhi dengan baik.

Paham pandangan masyarakat kepada anak tidak terlepas dari ideologi yang tumbuh setelah perang dunia, dimana ada banyak kemiskinan secara biologis menderita, lalu muncullah revolusi industri sehingga paham ideologi kapitalisme hadir, ditopang oleh konsumerisme, sehingga menghasilkan individualisme, pendekatan meritokrasi, dan utilitiarisme dalam masyarakat. Ideologi-ideologi ini sangat mempengaruhi sistem pendidikan dimana saat ini banyak kegagalan pendidikan yang terjebak hanya untuk menghasilkan individu yang bisa mencari kerja dan memenuhi kebutuhan biologis saja. Padahal banyak peran yang akan dilakukan oleh anak ketika dia dewasa.

Bagaimana saya sebagai orang tua bisa menjalani perannya dalam mendidik anak?

CM memberikan insight bahwa berpeganglah terhadap prinsip kebenaran, prinsip universal, dan prinsip Sang Khalik. Fungsi dari pendidikan bukan untuk membangun manusia untuk memenuhi prinsip biologis; tapi anak adalah manusia yang juga makhluk spiritual. Semakin manusiawi seseorang semakin baik caranya bekerja.

Tumbuh Bersama Anak dengan Sifat Magnanimity

Magnanimity? Terus terang saya tidak familiar dengan terminologi ini dan baru mengetahui ketika Mba Ayu menjelaskan. Di buku CM, serial Philosophy of Education, menjelaskan tentang makna Magnanimity, yaitu:

memiliki imajinasi yang berbudaya, kemampuan menilai dan menimbang yang terlatih, selalu siap menguasai kerumitan profesi apa pun, sementara pada saat yang sama tahu menempatkan dirinya sendiri dan bagaimana memanfaatkan segala kelebihannya untuk meningkatkan kebahagiannya, kebahagiaan sesamanya, dan kesejahteraan masyarakatnya – satu sosok yang bukan cuma bisa mencari nafkah hidup tapi tahu bagaimana caranya hidup

Nilai-nilai dalam magnaminity inilah yang bisa menjadi rujukan dalam tumbuh bersama anak. Dari magnaminity ini saya kembali berefleksi dan membayangkan betapa sulit sekali karakter ini dibentuk dalam kondisi pendidikan saat ini, apalagi ketika kita belum menjawab tujuan/destinasi dari pendidikan itu sendiri, mau ke arah mana pendidikan kita, prinsip dan cara pendidikan seperti apa yang akan diterapkan.

Kelas Fondasi CM ini kembali membuat saya merenung, tentang prinsip pendidikan yang akan kami terapkan dalam keluarga. Semoga pengetahuan ini bisa terus saya dan istri narasikan setiap waktu, agar peran kami sebagai orang tua dapat bermanfaat untuk bekal anak kami dalam menjalani hidup.

Lampiran pengetahuan dan referensi

2 Comments

Tinggalkan komentar, curhat juga boleh kok

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.