An Unexpected Journey (part One)


Warning: Ini bukan kisah Hobbit dan petualangannya yang sedang ramai diperbincangkan, tapi ini kisah tentang petualangan saya selanjutnya. Kalau teman-teman tertarik, dengan senang hati silahkan melanjutkan, tapi kalau tidak tertarik sama sekali, teman-teman boleh kok untuk pindah channel (saya akan menganggapnya sebagai bounce rate visit :P)

Once upon a time…

Sudah hampir mencapai 2 tahun saya bekerja di sebuah Digital Agency yang bisa dibilang masuk dalam ke golongan Incumbent Digital Agency di Indonesia. Golongan Incumbent ini didasari oleh beberapa faktor, diantaranya kategori klien yang dihandle (brand multinasional, jumlah project yang dikerjakan, billing yang didapatkan dari project tsb), disamping itu bisa dilihat dari komposisi pegawainya, partnership agency dengan nasional dan multinasional institusi/perusahaan, sampai dengan annual income revenue-nya. Akan tetapi dengan berjalannya waktu, roda selalu berputar. Posisi Incumbent ini bisa saja berganti sesuai dengan kinerja Agency tsb setiap tahunnya.

Rangers in Blue (Image by @msantoz)
Rangers in Blue (Image by @msantoz)

Selama bekerja di Digital Agency ini, yaitu Klix Digital, saya mendapatkan banyak sekali pengalaman dan ilmu yang didapat dari berbagai macam bidang. (serius, kalau mau dapat banyak ilmu dengan waktu yang cukup singkat, bisa coba jalur agency. Saya jamin 1 tahun bisa sama dengan ± 2.5 – 3 tahun kerja di tempat biasa. Syaratnya: energi dan nyali harus cukup besar).

Rangers in Grey (image by @olaanshami)
Rangers in Grey (image by @olaanshami)

Di Klix, saya mengerjakan banyak project (campaign, konsultasi, training, product development) dari beberapa brand nasional dan multinasional. Melihat perkembangan tumbuh-kembang perusahaan ini memberikan pengalaman yang sangat berharga, bagaimana Klix bisa tumbuh dari 10 orang ke 15, lalu ke 30, sampai dengan 50 orang. mungkin jika digabungkan dengan satu sister company (Semut Api) bisa mencapai lebih dari 120 orang. Apalagi digabungkan dengan keseluruhan grup, Merah putih Inc. (Inkubator Start-Up), Ansvia (Mindtalk), MediaXAsia, dan beberapa entitas bisnis lain.

Brainstormin Session in Klix (Image by @olaanshami)
Brainstormin Session in Klix (Image by @olaanshami)

Selama bekerja, ada kesuksesan ada kegagalan. Kesuksesan dari campaign/project yang dikerjakan sama dengan kesuksesan dari brand tersebut untuk menyampaikan pesan kepada target market di channel digital, sehingga mereka tertarik untuk mencoba, membicarakan, berinteraksi, membeli produk, sampai dengan mengajak orang lain untuk ikut membeli produk dari brand tersebut. Seiringnya dengan waktu, dan apa yang benar-benar saya temukan, perlahan tapi pasti, kesuksesan tersebut mulai mengganggu hati nurani. Makin lama semakin membesar, ada perasaan tidak nyaman tentang kesuksesan sebuah program PR / Marketing: why It’s all about business impact?

It’s not about the business impact
Jadi ini semua tentang bagaimana brand bisa me-utilisasi channel digital ini untuk menghasilkan dampak bisnis bagi mereka, dan agency menjadi pelaku dibelakangnya. Lalu ada yang salah? IMHO, ya ada yang salah. Kesuksesan tersebut harus dipertanyakan lagi. Apakah dampak yang dihasilkan dapat merubah perilaku setiap individunya menjadi lebih baik? apakah ada dampak yang positif untuk masyarakat? untuk lingkungan? dan untuk 3 – 5 tahun ke depan, bahkan hingga 10 tahun ke depan? Overall, apakah ada dampak sosial yang positif didalamnya. Yes, we’re living on Economic Driven Society pattern dan dampak terhadap bisnis (duniawi) menjadi tolak ukur dari setiap hal yang kita lakukan. Tetapi sangatlah tidak adil ketika kita mendapatkan materi dari sebuah sumber, namun sumber tersebut menjadi negatif dan rusak. Jadi, sebuah ilmu yang digunakan seharusnya tidak hanya menciptakan business impact saja, tetapi harus ada social positive impact didalamnya. Untuk gambaran singkat, berikut ada video dari HavasMedia (Saya akan jelaskan lebih dalam di posting-an terpisah).

An introduction to Meaningful Brands from HavasMediaLabs on Vimeo.

Di tempat saya bekerja, ada memang beberapa project yang menghasilkan social impact, tapi itu hanya sebagian kecil, tidak secara holistik, sehingga pada akhirnya hasilnya pun tidak signifikan. Kemudian itu membuat saya bertanya: “apakah nanti akan ada happily ever-after ending, bahagia lahir dan batin, di akhir perjalanan ini, tentang apa yang saya lakukan dan kerjakan?” Dengan sangat tegas, hati nurani menyatakan: “TIDAK. YOU SHOULD CHANGE THE DIRECTION.” Pada momen itu, terjadi turning point dalam hidup saya, ditambah dengan semakin banyaknya referensi yang didapat dan ditemukan, fondasi untuk menjadi lebih bermanfaat dalam berkarya bagi manusia lain, masyarakat, dan lingkungan semakin kuat. Akhirnya saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya saat itu. Tidak mudah memang karena ada tim terbaik, dan kenyamanan dalam bekerja dari sisi materi yang harus saya tinggali. Tetapi hidup cuma sekali, saya tidak mau menyesal di akhir hidup, dan berkata, “andaikan saja, …..”.

The Fellowship of the Guardian

ready to sail? (image by by Todytod)
ready to sail? (image by by Todytod)

Di dunia yang luas, dengan terpaan ombak masalah yang tiada henti mendera, saya sadar saya tidak bisa melaluinya sendiri. Butuh sebuah kapal yang kokoh dan kru yang kompak dengan tekad yang bulat untuk bisa berlayar menuju tujuan yang hendak dicapai. Mirip seperti kisahnya the Hobbit ataupun the Lord of the Ring, saya bertemu dengan orang-orang hebat yang ternyata punya perasaan, tujuan, dan keinginan yang sama, saya menyebut mereka sebagai The Guardian. Siapa saja the Guardian itu, teman-teman akan tahu nanti.

Setelah pertemuan demi pertemuan dilakukan, akhirnya kami memutuskan untuk membuat kapal yang memang dilahirkan untuk menjadi tempat kami berpetualang. Kapal ini lahir, karena alasan yang kuat, alasan yang membuat kami mencurahkan energi, pikiran, dan waktu dengan ikhlas untuk mencapai tujuan. Kapal ini dibangun di tempat yang dikelilingi oleh pepehononan, udara segar, burung berkicau, dan sungai mengalir. Satu tempat di kota Bogor yang menjadi satu-satunya tempat dengan komposisi udara terbaik di dunia yang sering dilupakan oleh warganya sendiri (taken for granted), saya rasa kalian tahu tempat itu. (kalau tahu, hubungi saya, kita meetup bareng disana ya)

Di dalam kapal ini kami membentuk suatu culture, model, pattern yang dapat membuat kru kapalnya nyaman, semangat, dan tumbuh bersama dengan menghasilkan manfaat yang terbaik bagi semua. Kami mengembalikan keindahan dari digital didalamnya dan dengan tujuan utama: sebuah brand/organisasi tidak hanya hadir untuk menghasilkan dampak bisnis semata, tetapi harus bisa menghasilkan dampak sosial yang positif. We call the Ship: RAcK Digital. RAcK adalah singkatan dari “Random Act of Kindness”. Kita percaya bahwa kebaikan-kebaikan yang manusia lakukan meskipun sederhana akan menciptakan hasil yang positif yang besar pada akhirnya. Since we’re digital geeks, we’re going to utilize the digital channel as a kickstarter channel for the kindness. 

Yes, we're ready! (Image by Todytod)
Yes, we’re ready!
(Image by Todytod)

Kami sadar bahwa banyak hal yang harus dilakukan agar kapal ini bisa berlayar dengan baik. Oleh karena itu, saya dan teman-teman di RAcK yakin bahwa ada individu, grup, tim, komunitas, brand, organisasi dan korporasi yang punya visi sejalan dengan kami, so let’s collaborate then!

to be continued

Iklan

13 thoughts on “An Unexpected Journey (part One)

Add yours

  1. HavasMediaLab? Elo follow @umairh juga jangan2? Gw punya buku dia yang Economics for Human, bagus bgt. Sukses, Ndu. Mudah2an makin memberi impact positif ala-ala Umair Haque dengan Havas Media Lab-nya.

    IMHO, 50 juta nouveau riche orang Indonesia yang baru naik kelas ini butuh suntikan biar nggak kebawa arus jadi OKB ignorant.

    1. Umair itu distruptive Ney. Hehehe. Dapat banyak insight dari sini http://blogs.hbr.org/haque/, dan ternyata banyak data yang mendukung.

      Amin amin amin. Menunggu webinarnya dia. Bener banyak OKB yang sembarangan buang uang dan malah hasilnya tak memberi mereka kepuasan yg hakiki. Eh boleh tuh pinjam Economics for Human-nya, hehehe, nanti kalau kita ketemu ya.

      Keep on curious pak Dosen!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: