Mencari seorang Indonesia yang Berprestasi (part II)

Kamis, 08 Oktober 2009

Setelah menemui Dedy Astika kami langsung tancap gas ke daerah Kemang untuk bertemu dengan salah satu kandidat dari bidang Seni dan Budaya. Ia adalah bosnya Jember Fashion Carnaval, Dynand Fariz.  Kami menemuinya di tempat ia mengajar, Sekolah Mode ESMOD. Dikarenakan jadwal Dynand yang cukup ketat, kami bisa menemuinya pada pukul 3 sore sedangkan pada saat itu jarum jam baru menunjukkan pukul 13.00. Kami tiba setengah dua di sekolah ESMOD, kemudian kami memberikan konfirmasi bahwa sudah sampai.

Pada saat kami masuk ke ESMOD, kami langsung disambut oleh Dynand kemudian ia mempersilahkan kami untuk mewawancarai ibu Maria, selaku Marketing Manager ESMOD Jakarta. Ibu Maria memberikan banyak testimoni mengenai Dynand.

“Dia itu orangnya pekerja keras, teliti, dan sangat bertanggung jawab. Benar-benar professional.”jelas Maria bercerita mengenai karakter Dynand.

bersama ibu maria, marketing director ESMOD

Setelah mengobrol dengan Ibu Maria, kami lalu menunggu sebentar untuk bertemu kembali dengan Dynand. Dikarenakan jadwal mengajar Dynand yang tidak bisa ditinggalkan maka kami dipersilahkan untuk mewawancarainya di kelas sembari dia mengajar.

Pada saat itu Dynand sedang mengajar tingkat satu mata kuliah Pattern. Terlihat di kelas Dynand terlihat atraktif, menyenangkan, dan sangat membantu kepada mahasiswa/i-nya. Di sela-sela kesibukan dia mengajar, dia menjelaskan mengenai dirinya dan aktivitasnya kepada kami.

Dynand saat menjelaskan tentang Pattern kepada mahasiswinya

Dynand Fariz: Mengangkat Jember dengan Fashion

Lahir di sebuah desa terpencil di Kabupaten Jember, Fariz yang asli Desa Garahan, Kecamatan Silo, merasa bahwa kota Jember saat itu merupakan kota kecil yang tidak menarik dan tidak memiliki keistimewaan yang menjadikannya dikenal orang.

Kemudian Ia sering minder saat bertemu dengan orang yang berasal dari kota-kota besar. Keadaan seperti itu tidak berlangsung lama, Dynand mulai membangun kepercayaan dirinya. Setelah lulus dari IKIP Surabaya, ia langsung diterima menjadi dosen di kampusnya. Merasa kurang tertantang kemudian Dynand mencoba mengikuti Program Beasiswa yang disponsori oleh ESMOD dan diterima. Di ESMOD Dynand menjadi siswa yang beprestasi, bahkan karena prestasinya ia dikirim ke ESMOD Paris selama 3 bulan.

Sekembalinya Dynand dari Paris, Ia langsung mendirikan Rumah Mode yang ia beri nama “House of Dynand” yang berkiblat pada tren fashion dunia. Dynand, yang juga menjadi staf Pengajar ESMOD selepas lulus, berkeinginan kuat untuk membangun kota kelahirannya. Lalu ia terinspirasi dari pameran mode di Paris, dan pameran mode di kota-kota lain.

“Saya melihat dalam setiap fashion show sering terdaat kesamaan baik itu dari desainnya, maupun temanya. Mengapa itu tidak membuat yang berbeda!” ujarnya.

Dari situlah Dynand kemudian tergerak untuk membuat Fashion Show yang berbeda yang menjadi cikal bakal Jember Fashion Carnaval. Disamping itu, laki-laki kelahiran Jember, 23 Mei 1963 ini ingin masyarakat Jember ikut serta dalam Fashion Show ini. Ia juga ingin membuat suatu Fashion Show yang mempunya tema dan karakteristik yang berbeda dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di sekeliling kita dan tidak terpakai.

Dynand Fariz menjelaskan konsep JFC

Pada 2003, Jember pun tergetar saat JFC hadir pertama kali pada 1 Januari 2003, bersamaan dengan HUT Kota Jember.  Tidak semua berjalan lancar. Tantangan dan hambatan mulai terus berdatangan. Ada yang pro dan tentu saja ada pula yang kontra.

“Memang cukup sulit untuk Jember menerima ini, karena Jember terkenal akan kota religiusnya. Ketika banyak kelompok yang mengecam karena kata mereka ini tidak baik, membuka aurat, dan lain sebagainya, padahal mereka belum pernah melihat. Lalu saya undang mereka untuk melihat, dan ternyata tidak sama sekali seperti yang mereka bayangkan.” Ucap Dynand.

Jember Fashion Carnaval terus berlanjut setiap tahunnya, JFC-2, JFC-3, hingga JFC-8 tahun ini. Setiap tahun sangat berbeda. Dynand beserta Timnya terus berusaha mingkatkan standar JFC. Untuk itu Dynand membuka pelatihan gratis mengenai fashion kepada seluruh peserta JFC  yang terdiri dari seluruh kalangan, baik itu segi desain maupun tekhnik.

Keunikan Jember Fashion Carnaval

JFC benar-benar unik, bagaimana tidak, dari tema yang selalu update dengan trend dunia, peserta yang memang bukan ahli fashion hanya masyarakat biasa dari usia yang sangat muda sampai dengan dewasa, kostum yang terbuat dari bahan-bahan sisa maupun bekas, desain yang orisinal, penonton yang membludak, hingga atraksi lain yang membuat JFC lengkap dari fashion sampai seni lainnya.

Yang menarik adalah gejala sosial yang terjadi dalam masyarakat. Dynand menjelaskan bahwa hubungan yang sangat erat keluarga dengan masing-masing individu tercipta, tumbuhnya nilai-nilai kerjasama antar masyarakat.

“Ketika anak dari salah satu keluarga ikut serta, mulai dari Ibu, Bapak, Adik, Kakak, semua ikut membantu membuatkan kostum. Kemudian mereka berbondong-bondong menyemangati si anak, dengan mengajak sanak famili lainnya. Dari situ terlihat jelas bahwa semangat gotong royong, kerja sama, dan menghargai muncul.” Ujar Dynand.

Nilai-nilai edukasi juga terlihat jelas, bagaimana seorang yang sama sekali tidak mengerti akan fashion, desain, kemudian mereka belajar, mencari bahan, hingga membuat kostum yang benar-benar orisinal hasil karya mereka, dan tentu saja pada akhirnya mereka juga yang akan memakai sendiri hasil karyanya.

Jember Fashion Carnaval - Costume

Disamping itu, di dalam JFC tidak hanya ada Fashion Show saja, tetapi dilengkapi dengan pertunjukkan seni lainnya, antara lain Tari, Marching Band, dan banyak ditemukan bakat-bakat baru dari masing-masing peserta seperti musik dan tarik suara.

Media lokal dan internasional pun berdatangan untuk meliput, ratusan fotografer seakan tidak mau ketinggalan setiap momen pada setiap JFC. Tim JFC pun mendapatkan undangan dari berbagai event nasional dan internasional. Mulai Fashion Street Kuta Karnival Bali, Bali Fashion Week Bali, Exhibition bersama Nusantara Culture dan Foundation Indonesia pimpinan Marzuki Usman di Jakarta, 100th, World Scout Jamboree dalam Indonesian Day London dan Indonesian Reception Day di Mumbay, India.

Kostum JFC yang unik

Mimpi dan Harapan

Dulu Dynand hanya bisa membayangkan dan bermimpi bahwa kotanya yang dulu dia tidak banggakan, menjadi kota yang dikenal dan disanjung banyak orang. Kini mimpi itu terwujud.

“Tentunya ini berkat kerja keras dan keyakinan, kalau kita yakin bisa, yah lambat laun itu akan terwujud. Tapi kita jangan pernah puas, harus terus mengkoreksi diri, dan berkembang. “ kata peraih penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kategori Catwalk Terpanjang.

Dukungan untuk Dynand dan JFC terus mengalir, baik itu Pemda, Pemerintah Pusat, Masyarakat, Media dan JFC mulai menularkan kepada kota-kota lainnya. Salah satunya adalah Solo yang juga mengadakan fashion show Batik. Dynand berharap akakn hadirnya JFC bisa membantu kota Jember baik dari segi pariwisata, SDM, dan perekonomian. Dan tentunya mengangkat citra Jember dan Indonesia di mata dunia.

Fitri, Saya, dan Dynand
Iklan

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s